Hubungan Aktivitas Fisik, Stres, dan Makanan Cepat Saji dengan Kejadian Dismenore Primer Pada Siswi SMAI Assabiquun di Bekasi Tahun 2025
Keywords:
aktivitas fisik, dismenore primer, makanan cepat saji, stresAbstract
Dismenore primer pada wanita timbul akibat adanya hormon prostaglandin yang membuat uterus berkontraksi.
Dismenore primer dapat mengganggu aktivitas sehari hari remaja putri seperti kegiatan belajar di sekolah. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengetahui hubungan aktivitas fisik, stres, dan makanan cepat saji terhadap kejadian dismenore
primer pada siswi SMAN assabiquun di Bekasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan potong lintang
(cross-sectional). Responden penelitian ini adalah seluruh remaja putri sekolah menengah atas usia 16-18 tahun kelas X,
XI, XII yang masuk dalam kriteria inklusi dengan teknik pengambilan data total sampling. Analisis data dilakukan dengan
analisis univariat dan bivariat. Variabel terikat, yaitu aktivitas fisik, stres, dan makanan cepat saji, sedangkan variabel
bebas adalah kejadian dismenore primer. Penelitian ini juga menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ)
untuk mengetahui aktivitas fisik responden dan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS) untuk mengetahui
tingkat stres responden. Sedangkan Food Frequency Questionnaire (FFQ) digunakan untuk mengetahui frekuensi asupan
fast food responden, dan Numeric Rating Scale (NRS) digunakan untuk mengetahui tingkat kejadian dismenore primer
responden. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2025. Analisis statistik menggunakan uji chi-square. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa responden berusia 15-18 tahun mengalami dismenore 74,4%, aktivitas fisik sedang-berat
58,9%, mengalami stres 51,1%, dan jarang mengonsumsi makanan cepat saji 53,3%. Dismenore primer lebih banyak
dialami responden dengan aktivitas fisik ringan, stres tinggi, dan sering konsumsi fast food. Terdapat hubungan signifikan
antara stres dan dismenore (pvalue <0,001; PR = 1,873; 95% CI: 1,415 – 2,479). Disarankan agar siswi rutin berolahraga
dan sekolah memfasilitasi kegiatan fisik.